Setelah kegiatan pembukaan “Temu Alumni” selesai dilakukan, kultum menjadi kegiatan selanjutnya. Pada sesi kultum diisi oleh Ustazah Zuhrupatul Jannah, M.Ag., dengan tema: Memaknai Muslim Shalih dan Muslimah Shalihah.
Ustazah Zuhrupatul mengawali kultum dengan pendefinisian muslim berasal dari kata salima atau salaam yang berarti damai, keselamatan. Kata salima merupakan kata kerja aktif (Fi’il ma’lum), sedangkan Muslim/ah adalah Fa’il/ Subjek/1 dari kata salima, oleh Karena itu, Muslim/ muslimah bermakna pelaku/ orang yg aktif dan dinamis yang senantiasa berupaya merajut damai sesuai tuntunan Alquran dan sunah Nabi. Sedangkan Ash-Shalih / shalihat (yang berbuat kebajikan) yang akar katanya yaitu shalu-ha, yashluhu, shalih atau secara definitif berarti orang-orang yang terus-menerus mengupayakan kebajikan.

Lebih lanjut, Ustazah Zuhrupatul menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an kata shÄliḥ disebutkan sebanyak 124 kali dalam berbagai variasi makna, termasuk bentuk jamaknya shÄliḥūn/ shÄliḥÄt. Satu di antaranya adalah Surat al-Anbiya (105), yang mengabarkan tentang keberadaan dan peran penting orang-orang saleh bagi kehidupan di muka bumi,ÙŽ
Ùˆ َلقَد َكتَبنَا ÙÙÙ‰ ٱل َّزبÙÙˆ ÙØ± Ùمن بَع ÙØ¯ ٱل ÙØ°Ùƒ ÙØ± Ø£ÙŽ َّن ٱلَْر َض ÙŠÙŽ ÙØ±Ø«Ù َها ÙØ¹Ø¨ÙŽØ§ ÙØ¯ ÙŽÙ‰ ٱل َّص ٰـ ÙÙ„ ÙØÙˆ ÙŽÙ† Ù¡Ù
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur bahwa bumi ini dititipkan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.â€
Menurut Syekh Sya’rawi, orang saleh itu ada dua macam, saleh duniawi dan saleh ukhrawi. Pertama, saleh duniawi adalah saleh dalam arti asal, yakni orang yang berkepribadian baik sehingga di manapun berada ia tidak merugikan tapi justru banyak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Kedua, saleh ukhrawi, yakni kesalehan yang lahir dari keimanan. Kebaikan yang dilakukan sebagai ekspresi dari ketaatan kepada Tuhan. Artinya, seseorang berkepribadian atau melakukan kebaikan tidak sekedar karena tuntutan etika, tapi juga atas kesadaran penuh sebagai seorang hamba Allah untuk berbuat baik kepada sesama hamba dan ciptaan-Nya.
Garis pembeda antara saleh duniawi dan ukhrawi ini ialah keimanan, sehingga saleh ukhrawi ini hanya bisa dimiliki oleh seorang Muslim. Kebaikan yang dilakukan bisa saja serupa, namun berbeda nilainya. Kesalehan ukhrawi bernilai dunia sekaligus akherat.
Ia pun sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Baik-buruk perilakunya selama hidup di dunia akan dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT kelak di hari kiamat. Inilah orang saleh yang barangkali dimaksudkan Allah dalam firmanNya,ÙŽ
Ùˆ َمن ÙØ¹ ÙŠÙ ÙØ· Ù± َّللَّ َوٱل َّر ÙØ³Ùˆ ÙŽÙ„ ÙÙŽØ£ÙÛŸÙˆ َلٰـٰٓئ٠َك ÙŽÙ… َع Ù± َّل ÙØ°ÙŠ ÙŽÙ† أَنعَ ÙŽÙ… Ù± َّللÙÙ‘ َع َلي Ùهم ÙÙ… ÙŽÙ† ٱلنَّبÙÙŠÙÛ§Ù€ ÙŽÙ† َوٱل ÙØµ ÙØ¯ÙŠ Ùقي ÙŽÙ† َوٱل Ùّش َهدَآٰ ÙØ¡ َوٱل َّص ٰـ ÙÙ„ ÙØÙŠ ÙŽÙ† ÙŽÙˆ ÙŽØ ÙØ³ ÙŽÙ† Ø£ÙÛŸÙˆ ÙŽÙ„ ٰـٰٓئ٠َك َرÙÙيًÛقا ٦٩
“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka akan ditempatkan bersama dengan orang-orang yang Allah anugerahi nikmat, yaitu para Nabi, para shiddīqīn, para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka adalah sebaikbaik teman.†(QS. An-Nisa: 69).


Muslim/Muslimah shalihah yang berarti laki/perempuan aktif dan teguh melakukan upaya-upaya demi memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri. Juga memperbaiki keluarga dan masyarakat ke arah kondisi yang lebih positif dan konstruktif menuju tercapainya masyarakat yang berkeadaban serta baldah thayyibah wa rabbun ghafur. Terkhusush untuk kata shalihat, Salah satu ayat Al-Qur’an yang mengulas lafadz sha-li-hat ialah:
ÙÙŽØ§Ù„ØµÙŽÙ‘Ø§Ù„Ù ÙŽØØ§ ÙØª Ù‚ÙŽØ§Ù†ÙØªÙŽØ§ ٌت ÙŽØØ§ÙÙØ¸ÙŽØ§ ٌت Ù„Ùلغَيب٠ب٠َما ÙŽØÙÙØ¸ÙŽ ÙŽÙ‘Ø§Ù„Ù„Ù‘ Ù
“Maka perempuan yang saleha ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisa/4: 34).
Dari QS An-Nisa’ : 34 diatas dapat kita fahami bahwa Muslimah Shalihah dapat dilihat dari penghayatan dan pengalaman seseorang terhadap makna tauhid. Pengamalan dan penghayatan tauhid menjadikan seseorang teguh menampilkan akhlakul karimah, baik terhadap sesama maupun makhluk lainnya di alam semesta. Penghayatan tersebut yakni berwawasan luas, mandiri, aktif-dinamis, berpikir kritis, rasional, serta bersikap toleran dan empati./1Seperti yang tercantum dalam Firman Allah QS. Al-Taubah : 71:
1ÙŽÙˆØ§Ù„Ù…ÙØ¤ ÙمنÙÙˆ ÙŽÙ† ÙŽÙˆØ§Ù„Ù…ÙØ¤ Ùمنَا ÙØª بَعضÙÙ‡ÙÙ… أَولÙيَاء٠بَعض ÙŠÙŽØ£Ù…Ù ÙØ±Ùˆ ÙŽÙ† Ø¨ÙØ§Ù„ َمع ÙØ±Ùˆ Ù٠َويَنهَو ÙŽÙ† عَ ÙÙ† ال Ùمنكَ ÙØ± َّن َّاللَّ ÙØ¥ َويÙÙ‚ÙيمÙÙˆ ÙŽÙ† الصَّ َلَةَ ÙŽÙˆÙŠÙØ¤ØªÙÙˆ ÙŽÙ† ال َّزكَاةَ ÙŽÙˆÙŠÙ ÙØ·ÙŠØ¹ÙÙˆ ÙŽÙ† َّاللَّ ÙŽÙˆ َرسÙولَه٠أÙÙˆ ٰلَئ٠َك سَيَر ÙŽØ ÙمهÙم٠َّاللّ ٠عَ ÙØ²ÙŠ ÙŒØ² ÙŽØ Ùكيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah:71).
Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi saw. ditemukan sederetan nama perempuan yang memiliki reputasi dan prestasi cemerlang. Seperti Sayyidah Khadijah yang aktif mendukung dakwah nabi secara finansial mengingat beliau sebagai woman interpreuner yang sukses, begitu juga dengan sosok sayyidah ‘A’isyah yang merepresentasikan perempuan yang memiliki kompetensi dalam transformasi keilmuan, hal ini dibuktikan dengan banyaknya periwayatan hadis oleh sayyidah ‘Aisyah, dan masih banyak lagi figure shahabiyah lainnya yang patut diteladani. Berangkat dari posisi ini, Muslimah memiliki peran yang sangat strategis dalam mendidik ummat, memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban, sebagaimana yang telah dilakukan oleh shahabiyah dalam mengantarkan masyarakat yang hidup di zamannya pada satu keunggulan peradaban.

Dalam Syair Wasiat Renungan Masa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diungkapkan:
Kaum wanita tetap wanita, Sekalipun SH dan Dokteranda, Wajib berjuang dengan pelita, Membela agama nusa dan bangsa (Wasiat Renungan Masa TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid).
Syair Wasiat Renungan Masa diatas dapat kita fahami bahwa Muslimah harus berperan aktif dalam memperjuangkan kebenaran untuk agama dan bangsa, namun peran-peran wanita di sector public tersebut tidak lantas keluar dari kodrat keperempuanannya sebagai istri yang menjaga kehormatan suaminya dan sebagai ibu yang memberikan keteladanan bagi anak-anaknya sebagaimana diuangkapkan oleh Hafiz Ibrahim, seorang penyair dari Mesir, mengungkapkan :Ù
Ù‚ َب الَْعرا ÙÙŠ ذا أَعدَدتَها أَعدَد َت َشعبا ÙŽØ· ÙØ¥ الÙÙ’ Ùّم َمد َر َسةٌ
“Ibu adalah madrasah atau pendidik anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau mempersiapkan pondasi bangsa yang baik nan kokoh.â€
Diakhir kultum Ustazah Zuhrupatul menyampaikan pesan, agar Muslimah Shalihah harus meneladani Rasulullah saw secara utuh. Beliau adalah teladan umat Islam. Tujuan akhir risalah Nabi adalah mewujudkan insaninsan berakhlak karimah melalui penegakan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, kedamaian, dan kemaslahatan sebagaimana visi penciptaan manusia smenjadi khalifah fil ardi, yakni pemimpin atau pengelola yang bertanggung jawab mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan di muka bumi guna mewujudkan Islam Rahmatan Lil’alamin.