Tim dari Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama yang terdiri dari Dekan (Dr. H. Lukman Hakim, M.Pd) didampingi Wakil Dekan Dua (Dr. H. Maimun, M.Pd) bertolak dari Mataram pada tanggal 1 Pebruari 2023 pukul 08.30 WITA dan tiba di Surabaya pukul 10.00 WIB.

Setiba di Surabaya tidak merasa elok kalau tidak mampir bersilaturrahmi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Pukul 11.30 bertemu dengan Prof. Dr. Abdul Qadir Riadi, M.Ag. Di ruang Dekan kami berbincang-bincang seputar tindak lanjut kerjasama yang sudah terbangun lama dengan UIN Sunan Ampel Surabaya, termasuk menceritakan bahwa kegiatan Forum Dekan Ushuluddin se Indonesia tahun ini akan dilaksanakan di Mataram dengan rangkaian seminar internasional, bahkan Dekan FUFI UIN Sunan Ampel menyambut gembira dan siap mengirim dosen untuk presentasi pada kegiatan seminar tersebut.

Sebelum Berpamitan, Dekan FUSA UIN Mataram bincang ringan
dengan Dekan FUFI UIN Sunan Ampel Surabaya di depan gedung FUFI

Sekitar 1 jam berbincang-bincang dengan Dekan FUFI UIN Sunan Ampel Surabaya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Kreta Api Gubeng Surabaya yang akan mengantarkan kami menuju Yogyakarta tempat berlangsungnya Pra Rakernas Forum Dekan Ushuluddin se Indonesia.

Perjalanan Surabaya – Yogyakarta dengan kreta api memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam. Dan kami tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 19.30 WIB, langsung menuju tempat istirahat di Hotel New Saphir berdekatan dengan UIN Sunan Kalijada Yogyakarta.

Tim UIN Mataram menumpangi Kreta Ekskutif Surabaya-Yogyakarta

Tim UIN Mataram menumpangi Kreta Ekskutif Surabaya-Yogyakarta

Pada hari kedua, tepatnya tanggal 2 Pebruari 2023 pukul 08.00 kami tiba di tempat acara Pra Rakernas yang akan berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum kegiatan Pra Rakernas, seluruh peserta yang terdiri dari Dekan Fakultas Ushuluddin se Indonesia menghadiri kegiatan Pengukuhan Guru Besar Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam yakni Prof. Dr. Inayah Rachmaniyah, M.Hum.

Dalam pidato ilmiyan, Prof. Inayah menyampaian orasi berjudul “Trans-queers sebagai Basis Epistem Pemahaman Praktik Keagamaan Inklusif-Berkeadilan (Belajar dari Studi Gender Kontemporer)”. Beliau menyampaikan kurang lebih bahwa hermeneutika teori queen adalah mempertanyakan ulang (Skeptik-kritis), interogasi, transgresi, dan pembalikan (perubahan) atau rekonstruksi, dan perpaduan ranah epistemologis dan sekaligus aksiologis yang ditandai dengan perwujudannya di ranah praksis. Dalam konteks studi gender, trans-queers dibutuhkan untuk mencapaikeseimbangan atau keadilan dan kebahagiaan.

Di atas semua ini, nalar trans-queer bertujuan untuk membangun dan mewujudkan dunia yang lebih baik, adil dan memberikan kesempatan pada setiap orang untuk menemukan kebahagiaan.

Membangun nalar trans-queer perlu dimulai dari diri sendiri, karena jika diri sendiri  telah kehilangan nalar kritis, maka jangan berharap kita dapat melakukan perubahan di luar kita. Mari melakukan perubahan dari diri kita agar kita dapat merubah sekitar kita dan dunia.

Berfose bersama Guru Besar setelah Dikukuhkan oleh Ketua Senat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selanjutnya Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. Phil. Almakin, MA mendialogkan isi dari orasi ilmiah Prof. Inayah. Beliau menyandingkan teori Trans-queer yang disampaikan Prof. Inayah dengan pengalaman hidup Rektor bersama Prof. Inayah semenjak masa perkuliahan S1 hingga pengalaman belajar di luar negeri.

Tepat pukul 10.30 acara pengukuhan selesai, dilanjutkan dengan makan siang yang telah disediakan oleh UIN Sunan Kalijaga.

Tepat pukul 11.30 peserta Forum Dekan Ushuluddin se Indonesia melakukan rapat Pra-Rakernas  di ruang sidang rektorat.    

Kegiatan Pra-Rakernas dimulai dengan acara pembukaan yang dilakukan  langsung oleh Ketua Forum Dekan Ushuluddin Dr. Yusuf Rahman, MA. Dalam sambutannya beliau mengajak para Dekan untuk bersama-sama memajukan dan mengembangkan Fakultas Ushuluddin. Dan jangan lupa bahwa kita juga harus mewujudkan capaian-capaian yang mendongkrak akreditasi prodi di masing-masing Fakultas, salah satunya adalah program Dekan untuk percepatan Guru Besar.

Pada sesi-sesi yang akan kita lalui nanti, akan ada pemaparan strategi percepatan Guru Besar, harapannya kita semua dapat melakukan terobosan-terobosan, terutama dalam karya tulis ilmiah. Kita bisa berkolaborasi dengan para Dekan.

Pada akhirnya nanti di sesi terakhir akan ada pemaparan dari Fakultas Ushuluddin UIN Mataram terkait persiapan Fordek tahun 2023.

Selanjutnya sesi pertama, oleh Prof. H. Hasyim Muhammad dari UIN Walisongo Semarang, beliau memaparkan bahwa dalam percepatan guru besar penting dilakukan penelitian bersama sebagaimana telah banyak dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi lain demi percepatan Guru Besar, salah satunya dengan melakukan kolaborasi internasional untuk dapat menghasilkan publikasi internasional secara pesat. Produktivitas publikasi kolaborasi dengan mitra-mitra internasional ini sangat penting agar dapat mengembangkan ilmu bersama pihak lain. Kelemahan yang kita miliki saat ini terletak pada rendahnya sitasi publikasi maupun kolaborasi internasional. Oleh karena itu, diperlukan akselerasi dengan cara melakukan perubahan dalam ruang aktualisasi dosen untuk mengembangkan potensi dan bakat, salah satu caranya adalah dengan penetapan jumlah minimum penelitian dosen dan tidak akan dibatasi jumlah maksimalnya. Hal ini sesuai dengan slogan maupun kebijakan “Merdeka Belajar”. Kita tidak hanya mengisi gelas yang kosong, tetapi juga menyalakan sebuah obor untuk perubahan yang lebih baik. Penelitian yang dilakukan oleh dosen ini diharapkan nantinya akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Selanjutnya beliau juga menegaskan bahwa Percepatan Promosi Guru Besar ini dilandaskan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Panjang (RPLMP) nasional tahun 2022-2024. Kebijakan ini merupakan strategi penguatan untuk mencapai pendidikan tinggi yang semakin berkualitas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penguatan kelembagaan perguruan tinggi, perwujudan diferensiasi misi, pembiayaan pendidikan tinggi, pengembangan bidang keilmuan dan inovasi pembelajaran, peningkatan lulusan perguruan tinggi, penguatan kerja sama antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah, serta menjadikan perguruan tinggi sebagai produsen ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan pusat keunggulan.    

Sesi pertama ini selesai pukul 13.30 dan dilanjutkan dengan istirahat, para peserta diminta untuk break sekitar satu jam sekaligus melaksanakan shalat dzuhur.

Sesi kedua berlangsung pukul 14.30 dengan tema Pengembangan Fakultas Ushuluddin PTKI oleh ketua Forum Dekan Bapak Dr. Yusuf Rahman, MA. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan strategi yang akan dijalankan ialah revitalisasi organisasi, peningkatan kinerja dan akreditasi program studi, pembangunan brand image sebagai kampus Islami berbasis teknologi, penerapan Standar Penjaminan Mutu Internal, pengembangan prodi baru, pengembangan SDM, pengembangan sarana prasarana, serta kolaborasi kerja sama baik nasional dan internasional.

Pemaparan Materi oleh Ketua Forum Dekan (Dr. Yusuf Rahman, MA)
dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Selanjutnya beliau memberikan rincian arah pengembangan yang dapat dilakukan di Fakultas masing-masing sebagai berikut;

  1. Memperkuat tridarma perguruan tinggi melalui peningkatkan mutu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat,
  2. Melibatkan sumber daya mitra , mereview karya ilmiah yang dihasilkan maupun penerbitan.
  3. Menjadikan Fakultas Ushuluddin bertaraf Internasioanal.
  4. Meningkatkan standar kompetensi lulusan dengan syarat- syarat sebagai berikut:
    1. Transfer ilmu pengetahuan, menjadikan ilmu berbasis Ushuluddian sebagai modal mahasiswa memahami ilmu keislaman,
    1. Melahirkan lulusan yang memiliki skill proses praktik keislaman yang profesional dan berpedoman pada nilai Islami.
  5. Memperkuat jaringan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri, terlaksananya pertukaran dosen, pertuakaran mahasiswa, kerjasama dalam hal penerbitan jurnal internasional terakreditasi, menjalin kerjasama internasional .

Sesi kedua ini berakhir pukul 17.00 dan peserta diminta istirahat selama 30 menit dan diilanjutkan dengan acara penandatanganan MOA antar beberapa Fakultas dari beberapa UIN dan IAIN.

Penanda tanganan MOA disaksikan Ketua Fordek

Acara sesi kedua telah selesai dengan selesainya penandatangan MOA, selanjutnya acara akan diteruskan dengan ramah tamah pada pukul 19.00 setelah selesai shalat magrib. Ramah tamah dan syukuran Prof. Inayah yang tadi pagi telah dikukuhkan sebagai guru besar bidang Sosiologi Agama, berlangsung hingga pukul 22.00 WIB.

Pada hari Ketiga kegiatan Pra-Rakernas, giliran tim dari UIN Mataram Mataram memaparkan kesiapan pelaksanaan kegiatan Frum Dekan Ushuluddin se Indonesaia yang disepakati pada saat Fordek di IAIN Manado.

Tim UIN Mataram menyampaikan bahwa dukungan pimpinan atau lembaga (UIN Mataram) sangat besar ditandai dengan munculnya judul kegiatan pada postud DIPA Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama.

Kemudia Pemda setempat (Wali Kota Mataram) juga telah terinformasi dengan akan diakanannya Fordek Ushuluddin di Mataram tahun 2023.

Tim UIN Mataram juga menyampaikan Akomodasi yang sudah dihubungi dan siap menampung seluruh peserta Fordek Ushuluddin tepatnya di Hotel Lombok Garden.

Adapun agenda Fordek 2023 telah dirancang dalam bentuk Seminar Internasional dengan model Blanded Learning (Offline dan Online) yang diperkirakan pesertanya untuk offline 150 orang dan Online minimal 500 orang, termasuk mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram. (Materi selengkapnya pada lampiran).

Dekan FUSA dan WD 2 mempresentasikan Bentuk Kesiapan
menjadi tuan rumah Fordek Ushuluddin tahun 2023

Selepas memaparkan keseiapan UIN Mataram, selanjutnya dibuka saran dan masukan untuk kesempurnaan pelaksanaan Fordek 2023. Dari beberapa masukan peserta, disimpulkan sebagai beriku:

  1. Pelaksanaan Fordek Ushuluddin se Indonesia pada Minggu kedua bulan Mei 2023;
  2. Narasumber berasal dari luar Negeri 1 orang dan Narasumber lokal 1 orang dari akademisi;
  3. Para Dekan atau Dosen Ushuluddin disiapkan sesi untuk presentasi pada kegiatan Seminar Internasional;
  4. Dana iuran Dekan akan digunakan untuk men-suport biaya penghonoran narasumber jika didalam DIPA FUSA UIN Mataram dirasakan kurang;
  5. Makalah yang dipresentasikan sedapat mungkin diarahkan untuk Jurnal Scopus, Sinta, atau Prosiding.

Sesi poin-poin persiapan dari UIN Mataram berakhir pukul 10.30 WIB, dan dilanjutkan dengan penutupan oleh Ketua Forum Fordek.

Dalam sambutannya, Ketua Forum mengharap kekompakan peserta Forum Dekan untuk hadir semua dalam Rekernas di UIN Mataram. Sangat bagus apabila mengajak para dosen yang siap presentasi pada ajang seminar internasional.

Apabila prodi-prodi yang ada di fakultas masing-masing bisa ikut bersama Dekan, maka prodi di UIN Mataram bisa menyiapkan menyiapkan kelas dosen tamu sebagai kegiatan yang mendokrak nilai akreditasi prodi.

Kegiatan Pra-Rakernas di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berakhir pada pukul 11.15 WIB dan ditutup dengan Hamdalah.

Tim dari UIN Mataram bertolak dari Yogyakarta menuju Mataram-Lombok pada hari jum’at sore pukul 17.30 melalui bandara Kulonprogo Yogyakarta.