Rabu, 29 Mei 2024, di Hotel Grand Legi Mataram, Fakultas Ushulludin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram sukses menyelenggarakan seminar internasional.
Seminar pada tahun 2024 ini mengusung tema “Engaging Religion in Society 5.0: Reinforcing Resilience in Achieving Sustainable Development Goalsâ€. Tema ini menghadirkan empat pembicara yaitu Mowafg Abrahem Masuwd (Universitas Zawia, Libya), Dr.Hj.Eliana Siregar, M.Ag (UIN Imam Bonjol, Padang), Dr.Hartono, M.Si (UIN Saizu Purwokerto), dan Prof Dr. Muhaemin, M.Th.I, M.Ed (UIN Alaudddin Makassar). Peserta dalam seminar ini sebanyak 168 orang.
Sesi pembukaan oleh keynote speaker Wakil Rektor II Prof. Dr. Maimun, M.Pd sekaligus membuka secara resmi acara seminar Internasional ini. Pada pidatonya di depan Dekanat FUSA dan para peserta seminar, menyampaikan bahwa era Society 5.0 yang juga disebut sebagai era Internet of Things (IoT), Big Data dan AI telah mendatangkan tantangan-tantangan yang unik, terutama disektor pendidikan. Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah dalam hal keuangan dan pembiayaan. Hal ini disebabkan karena untuk menjadikan universitas yang siap beradaptasi dalam masyarakat 5.0, harus dipastikan bahwa universitas memiliki sumber daya finansial yang memadai untuk mendukung berbagai program dan inisiatif.

Sesi awal pembicara diisi oleh Mowafg Abrahem Masudw dengan topik “Islam in Libya”. Pada sesi ini peserta seminar dan pembicara terhubung melalui room zoom meeting. Salah satu poin penting dalam pembicaraan ini yaitu “Islam memainkan peran penting dalam berbagai aspek masyarakat Libya, termasuk kehidupan keluarga, pendidikan, dan pemerintahan. Prinsip-prinsip Islam seringkali mempengaruhi norma-norma sosial dan praktik budaya”.

Sesi selanjutnya diisi oleh Dr.Hj.Eliana Siregar, M.Ag, dengan topik “The Relevance of Seyyed Hossein Nasr’s Sufism to Character Education in Indonesia”. Beberapa poin penyampaian dari topik tersebut yaitu, “relevansi sufisme Nasr dengan pendidikan karakter di Indonesia, pada aspek tujuan terlihat pada itikad baik untuk membentuk insan yang beriman dan bertakwa. Pada aspek peserta didik, sâlik dalam konteks sufisme Nasr adalah individu yang dengan kesadarannya berkeinginan untuk mengobati kegersangan rohaninya. Pada aspek materi pendidikan (Kurikulum), bahwa dalam konteks sufisme Nasr, pengetahuan utama yang perlu diberikan kepada sâlik adalah tentang syariah secara utuh sehingga dapat mengantarkannya menuju jalan sufisme”.

Pembicara selanjutnya yaitu Prof Dr. Muhaemin, M.Th.I, M.Ed., dengan topik “Religion and Artificial Intelligence”. Poin pembicaraan ini setidaknya dalam menghadapi situasi teknologi modern seperti AI maka terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu, memperkuat wawasan para pemuka agama, penguatan institusi keagamaan, dan memperkuat kelompok agama.
Sesi terakhir diisi oleh Dr.Hartono, M.Si., dengan tema “Reinforcement Qur’anic resilience in Achievement SDGs”. Poin penting dari pembicaraan ini yaitu mempromosikan ketahanan melalui belajar ABCs (Adversity>Belief>Consequences) yang kita miliki. ABCs dengan ketahanan Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketika mengalami atau mendapatkan sebuah kesulitan/masalah harus “bersabar” terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan “konsekuensi positifnya”, pada akhirnya kita akan memperoleh petunjuk dari Allah SWT. Beberapa poin tersebut dengan referensi utama dari QS. Al-Baqarah 155-157.

Pada akhir sesi dilakukan acara foto bersama, seperti terlihat pada beberapa gambar berikut.


Baca selengkapnya disini!
Sampai jumpa di Seminar selanjutnya, nantikan dan pantau terus informasi seputaran FUSA UIN Mataram!