
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram menyelenggarakan Seminar Internasional pada Selasa, 3 September 2025, bertempat di Hotel Aston Inn Mataram. Kegiatan ini diikuti oleh 170 peserta dan panitia dari unsur pimpinan, dosen, alumni, dan pengguna alumni. Seminar ini mengangkat tema besar tentang peran agama dalam merespons krisis iklim global, dengan fokus pada penguatan Ekoteologi Islam sebagai bagian dari implementasi asta protas Kementerian Agama RI, khususnya poin tentang pengarusutamaan nilai-nilai keberlanjutan dalam perspektif keagamaan.
Prof. Muhammad Ali, Ph.D dari University of California Riverside menegaskan bahwa perubahan iklim bukan hanya tantangan ilmiah, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Ia mengangkat kosmologi Qur’ani yang memandang alam sebagai amanah, serta larangan fasad dan israf sebagai prinsip etis dalam membangun gaya hidup ekologis. Gerakan eco-pesantren, khutbah hijau, dan masjid ramah lingkungan menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dapat membumi dalam gerakan sosial keberlanjutan.

Dr. Salman Faris menyoroti pentingnya pelestarian tradisi lokal seperti kesenian Ale-Ale dalam kerangka maqasid syariah. Ia menekankan bahwa ekspresi budaya dapat menjadi medium edukasi keberlanjutan jika dibingkai dengan etika dan estetika yang sesuai. Tradisi lokal yang dikemas secara kontekstual dapat memperkuat ekoteologi Islam sebagai gerakan sosial yang tidak hanya normatif, tetapi juga praksis dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
Prof. Dr. H. Abdul Quddus, M.A mengajak peserta untuk merekonstruksi teologi Islam agar lebih responsif terhadap isu-isu ekologis. Ia menawarkan gagasan Islamic Eco-Theology yang menekankan prinsip tauhid, amanah, khalifah, dan mizan sebagai fondasi etika keberlanjutan. Teologi ini mendorong umat Islam untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari komitmen keimanan dan pengabdian sosial, sejalan dengan semangat Asta Protas dalam membangun kesadaran ekologis berbasis spiritualitas.

Seminar ini menyimpulkan bahwa penguatan ekoteologi Islam harus menjadi agenda strategis dalam pendidikan tinggi keagamaan. Melalui riset, pengajaran, dan pengabdian masyarakat, nilai-nilai Qur’ani dan tradisi lokal dapat diintegrasikan menjadi gerakan keberlanjutan yang inklusif dan transformatif. FUSA UIN Mataram berkomitmen untuk menjadikan ekoteologi sebagai bagian dari kurikulum dan gerakan akademik, mendukung visi Kementerian Agama dalam membangun Indonesia yang religius, berkeadaban, dan berkelanjutan. [elqudsy]