Mataram, 10 Maret 2023. Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram, melaksanakan Diskusi Ilmiah Dosen dan Mahasiswa, bertempat di ruang Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram, yang dilaksanakan pada pukul 15.00 – 17.00 Witta, dengan mengangkat tema “Living al-Quran“. Diskusi ini, dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram, Dr. Lukman Hakim, M.Pd, Segenap Dosen dan Mahasiswa Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir (IQT) UIN Mataram. Acara diskusi kali ini, menghadirkan salah satu Dosen IQT UIN Mataram Dr. Nikmatulloh, S.Ag.,M.Ag sebagai nara sumber dan dipandu moderator yang juga merupakan Dosen IQT UIN Mataram, Mohammad Khoiril Anwar, MAg

Dr. Nikmatulloh, S.Ag., M.Ag dalam penjelasannya menyampaikan bahwa Living Qur’an adalah kajian atau penelitian ilmiah tentang berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur’an atau keberadaan al-Qur’an di sebuah komunitas muslim tertentu. Living Qur’an juga bisa dimaknai sebagai “teks al-Qur’an yang hidup dalam masyarakat.†Living al-Quran berusaha memotret proses interaksi masyarakat terhadap al-Qur’an, yang tidak sebatas pada pemaknaan teksnya, tetapi lebih ditekankan pada aspek penerapan teks-teks al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan teks-teks al-Qur’an tersebut kemudian menjadi tradisi yang melembaga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, lanjur Dr. Nikamtulloh Living al-Quran sebagai sebuah pendekatan baru dalam penelitian Ilmu al-Quran dan Tafsir pada dasarnya membutuhkan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu antropologi, dan sosiologi, sehingga dengan bantuan ilmu-ilmu tersebut akan mampu menjelaskan fenomena masyarakat dalam merespon teks-teks yang ada dalam al-Quran.
Lebih lanjut, Dr. Nikamtulloh menjelaskan bahwa pendekatan penelitian living al-Quran bisa mengambil beberapa bentuk penelitian, Pertama penelitian etnografi merupakan penelitian di bidang sosial humaniora yang meneliti kebudayaan pada kelompok etnik budaya tertentu dalam periode waktu tertentu pula, seperti penelitian yang telah dilakukan oleh Clifor Geertz terkait dengan Islam Jawa yang dikelompokkan dalam tiga katagori yaitu Islam Abangan, Islam Santri dan Islam Priayi. Kedua, penelitian Living al-Quran dengan menggunakan teori konstruksi sosial Peter L. Berger yang terdiri dari Eksternalisasi, Objektifasi, dan Internalisasi. Ketiga, Penelitian Living al-Quran juga bisa berbentuk penelitian biografi, misalnya penelitian yang terkait dengan biografi tokoh agama tentang penafsiran Ayat dalam al-Quran. Pada akhir penjelasannya Dr. Nikmatulloh, S,Ag,M.Ag berpendapat bahwa Living al-Quran sebagai sebuh pendekatan dalam kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir sangat penting dilakukan dengan beberapa pertimbangan, Pertama, kajian dan studi terkait dengan Tafsir hanya berkutat pada teks kita-kitab tafsir yang ada dan ditulis oleh Ulama-Ulama klasik sampai modern. Kedua, Studi tentang al-Quran, dan Tafsir berdasarkan pada praktek di lapangan sesuai dengan metode ilmu-ilmu sosial yang ada selama ini, seperti metode penggunaan teori-teori antropologi dan sosiologi dalam kajian ilmu al-Quran.

Setelah pemaparan dari naras sumber Dr. Nikmatulloh, S.Ag.,M.Ag dilanjutkan dengan Tanya jawab dan diskusi. Diskusi berlangsung sangat seru, argumentative, konstruktif. Semoga diskusi ini menambah wawasan dan memperkuat pemahaman Dosen dan Mahasiswa terkait Living al-Quran, sebagai sebuah pendekatan baru dalam studi al-Quran. Semoga apa yang menjadi diskusi pada hari ini, dapat diterapkan dalam penelitian Dosen dan Mahasiswa pada masa mendatang. Amiiiin…. (msyamsurrijal)