Mataram – Momentum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) XXI tahun 2022 di UIN Mataram menjadi hal yang yang cukup tepat mendukung tema tentang Future Religion dan tema turunannya yakni tentang Knowledge Management. Kedatangan intelektual dan akademisi dari berbagai kalangan dalam negeri maupun luar negeri tak lupa dimanfaatkan untuk menambah semarak pagelaran AICIS oleh berbagai prodi yang ada di UIN Mataram. Salah satunya Prodi Sosiologi Agama fakultas ushuluddin dan studi agama tak ketinggalan juga mengundang dua professor tamu, dan satu pemateri lokal untuk berbicara di forum yang bertajuk International Seminar Sociology of Religion dan Guest Lecture yang bertema Research Religion and Social Humanities in Society Era 5.0. Acara yang berlangsung pada 20 Oktober 2022 tersebut menghadirkan Prof. Dr. Waluyo Adisiswanto selaku pembicara pertama dan Juga rektor yang mewakili Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) untuk mensosialisasikan program-program di kampus mereka. Prof. Waluyo banyak berbicara tentang konsep pendidikan dalam Islam yang banyak mengalami dekadensi pada era ini terutama ketika diperhadapkan dengan teknologi yang alih-alih akan memudahkan tetapi membuat semakin ketergantungan. Komparasi sistem pendidikan yang ada di Malaysia dan Indonesia baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi menurut Prof. Waluyo juga terjadi hal yang cukup timpang, terutama ketika dikaitkan dengan kesederhanaan bangunan, pengajar, dan fasilitas-fasilitas yang disediakan. Di Malaysia pendidikan dasar hingga menengah bangunannya sederhana, para pembelajar juga tak dianjurkan untuk membawa HP, mereka masih memanfaatkan bilik-bilik telpon umum yang ada di sekitar sekolah ketika ingin menelpon untuk dijemput sepulang sekolah. Jam belajar juga sangat ketat, selesai shalat subuh para pengajar maupun pelajar sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolah.

Prof. Waluyo alumni RMIT Australia ini diberikan amanah untuk memimpin Universitas Muhammadiyah Malaysia yang merupakan kampus Islam Swasta. Ia juga banyak mengulas tentang pendidikan Islam seperti apa yang sebenarnya diusung oleh kampus-kampus berlabel Islam tersebut. Berkaca dari Malaysia bahwa cukup banyak kampus-kampus besar berlabel Islam tetapi tak cukup serius untuk menggali kebutuhan masyarakat Islam seperti apa yang semestinya dibangun. Sebagai penutup beliau selaku rektor UMAM mengajak civitas akademik baik mahasiswa maupun dosen yang ada di UIN Mataram untuk melanjutkan studi di UMAM yang banyak expert juga cukup concern di bidangnya yang menjadi pengajar di sana.

Pembicara kedua yakni Prof. Sohirin Mohd. Solihin, Ph.D, beliau seorang yang pernah lama belajar di Makkah lalu melanjutkan pendidikan Sarjana bidang Islamic Studies di Mesir. Pendidikan Master hingga doktoral ditempuh di University of Birmingham, UK. Prof. Sohirin banyak mengulas tentang perbedaan Islam dan pemikiran Islam. Beliau melanjutkan pembahasan dari prof. Waluyo terkait dengan integrasi kajian Islam dalam semua bidang di kampus-kampus berlabel Islam. Sejauh mana kampus-kampus berlabel islam itu menjadikan mazhab pemikiran dalam Islam sebagai pijakan. Beliau mencontohkan seperti kampus di Malaysia, bahwa ketika kampus itu berlabel Islam maka segala kajiannya itu dikaitkan dengan konsep-konsep islam, misalnya kajian Matematika, sains, ilmu sosial terintegrasi dengan konsep Islam. Bukan dalam artian mencocok-cocokkan konsep tersebut dengan Islam, tetapi betul-betul dikaji secara serius hingga menghasilkan formulasi yang memang menjadi kebutuhan masyarakat Islam.

Prof. Sohirin banyak bercerita tentang pengalamannya belajar di Luar Negeri bahkan sebelum masuk jenjang master, beliau sempat menjadi pekerja di tempat-tempat yang segala kebebasan individu sangat dijunjung tinggi. Atas tugas dari Majelis Rabithah tempatnya belajar dulu di Makkah, beliau ditugaskan untuk berdakwah di luar negeri. Persentuhannya dengan pendeta di UK memaksanya berpikir keras tentang konsep Islam yang sederhana dan ramah agar keimanan masyarakat muslim betul-betul meresap ke dalam hati. Beliau bercerita tentang pendeta yang tidak meyakini tentang keimanan kristiani karena banyak hal yang natural justru tidak diperbolehkan untuk mereka, salah satunya ketidakbolehan menikah.

Pembicara kedua ini menyimpulkan bahwa konsep islam yang terintegrasi di kampus-kampus berlabel islam mestinya membangun paradigma baru tentang kajian-kajiannya yang menjadi kebutuhan masyarakat muslim agar tidak ketergantungan dengan konsep-konsep yang digaungkan barat.

Prof. Sohirin yang merupakan anggota majelis hukama Islam Malaysia juga banyak membagikan tentang konsep tauhid yang beragam dalam tradisi pemikiran Islam sebenarnya bukan hal yang patut untuk dipertentangkan. Baik kalangan Asy’ariyah al maturidiyah, salafi wahabi, maupun Qadiriyah, Jabariyah merupakan dinamika dalam dunia Islam yang turut menyumbang gaung Islam di berbagai masyarakat. Sebab itu beliau juga menganjurkan bahwa konsep barat dan timur sebenarnya adalah terma yang sudah cukup lama ditinggalkan di Malaysia, tetapi bukan berarti menelan semua hal dari Barat lalu diterapkan pada konsep masyarakat Islam yang kental dengan adat istiadat ketimurannya. Beliau menyitir ayat wa lillaahil masyriqu wal maghribu sebagai legitimasi bahwa tidak semestinya anti Barat lalu menutup mata untuk tidak berinteraksi dengan Barat.

Pembicara ketiga yakni, Abdul Rahim, M.A dosen pada prodi Sosiologi Agama yang berbicara tentang future religion yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi digital melahirkan terma dan wacana baru tentang pelaksanaan ibadah. Di antaranya wacana pelaksanaan ibadah haji melalui metaverse, tahlilan virtual, maulid virtual dan lainnya yang muncul sebagai ekses dari kemajuan digitalisasi. Konsep knowledge management dalam konteks lokalitas juga disajikan kaitannya dengan pemapanan intelektual keagamaan yang tidak lagi terpusat pada elit agama, tetapi saat ini sangat banyak sumber-sumber intelektual yang dijadikan sebagai referensi. Digitalisasi menjadi konsep kunci dalam konsep Knowledge management ini yang dipelopori oleh elit-elit agama yang familiar dengan teknologi digital. Redaksi tentang future religion ini menjadi pertanyaan penting sejauh mana kemudian spiritualitas itu hadir dalam masyarakat umat beragama bukan sekedar penanda identitas administratif. Terakhir ia mengungkapkan pertanyaan tentang future religion ini juga terkait dengan bagaimana agama ke depannya membangun spirit emansipatoris, dan menghadirkan humanisme berbasis keadilan untuk semua manusia, sebagaimana yang diterminologikan dalam Islam yakni Rahmatan lil alamin shahihun fi kulli zaman wa makan.

Acara yang dipandu oleh Suparman Jayadi, M.Sos selaku moderator menyimpulkan bahwa terma-terma menarik dalam riset keagamaan juga tidak mesti meninggalkan hal-hal yang dianggap usang dengan mengakomodasi secara dominan hal-hal yang dianggap baru. Tetapi tradisi yang mapan dalam tataran pembangunan misi humanisme universal adalah konsep-konsep besar yang mesti bisa diterjemahkan dalam konsep yang lebih sederhana. Moderator juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya yang disambut dengan antusias oleh peserta. Mulai dari mahasiswa, dosen, bahkan penanya yang tertarik dengan konsep pendidikan di negara Malaysia.

Acara ditutup dengan saling tukar cenderamata dari UIN Mataram kepada Pembicara sekaligus Rektor UMAM, dan dari pihak UMAM memberikan doorprize kepada penanya yang mendapatkan kesempatan pada sesi tanya jawab . (AR)