Mataram, 27 Oktober, 2025. Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama atau FUSA UIN Mataram terus berbenah menuju Fakultas Rangking Asia. Langkah nyatanya adalah menghadirkan dosen Malaysia sebagai narasumber dalam diskusi dosen.

Bertempat di Meeting Room FUSA UIN Mataram, pada tanggal 27 Oktober 2025, FUSA UIN Mataram menghadirkan Dr. Salman Alfarisi, M.S.N Dosen Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia selaku narasumber. Hadir dalam diskusi ini Dekan FUSA UIN Mataram Prof. Dr. Suprapto, M.Ag Wakil Dekan Bidang Akademik Dan Kelembagaan Prof. Dr. Winengan, M.Si., Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, Dan Keuangan Dr. Agus., M.Si, Ketua dan Sekretaris Prodi, beserta dosen dan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Suprapto, M.Ag menyampaikan selamat datang di FUSA UIN Mataram kepada Dr. Salman Alfarisi, M.S.N yang merupukan Tuan Guru dibidang teori-teori sosial. Pak Doktor Salman ini merupakan tokoh pemikiran ilmu sosial di Asia, karena itu kita patur bersyukur bertemu dengan beliau, mari kita menyimak pemikirannya tentang tema yang sangat menarik yaitu Model Anatomi Ilmu Sosial: Menjembatani Teori Dan Praktik. Bagi saya tema ini sangat relevan bagi FUSA yang memiliki fokus kajian ilmu sosial dan keagamaan, imbuh Dekan yang akrab disapa Kang Prapto. Dalam paparan materinya Dr. Salman Alfarisi, M.S.N materi ini merupakan kali ketiga saya sampaikan, sebelumnya di beberapa tempat. Inti dari model ini adalah mengajak kita semua selaku masyarakat akademik untuk menemukan konsep atau model berdasarkan hasil olah pemikiran kita sendiri. Model ini lahir dari keresahan akademik saya bahwa selama ini ilmu pengetahuan hanya menyebar tidak berkembang. Mengapa ini terjadi? Karena kita selaku dosen hanya membaca tetapi tidak menciptakan. Kita sibuk mempromosikan pemikiran orang lain, mengutip pemikiran orang lain dalam karya tulis kita, namun kita tidak menemukan konsep atau model baru yang original. Oleh karena itu, jika ilmu pengetahuan ingin berkembang, dosen harus menjadi pencipta bukan hanya sebagai pembaca, ungkapnya.

Pada bagian akhir diskusi, Dr. Agus, M.Si selaku moderator menyimpulkan fenomena sosial di luar sana mengalami perubahan sangat cepat. Oleh karena itu, dosen FUSA UIN Mataram sebagai sosok ilmuan sosial keagamaan dituntut terus membedah fenomena dan menemukan cara baru, konsep baru, dan model baru, bahkan teori baru untuk menjelaskan kebenaran realitas itu. Sebagai dosen kemudian, janganlah kita terjebak pada cara berpikir struktural, karena kita adalah mahluk fungsional. Artinya diskusi ini hanya sebagai pembuka untuk diinisiasi oleh Pak Dekan, selanjutnya kami mengharapkan dosen memiliki inisiatif sendiri untuk berdiskusi tentang tema apa saja. Kami berharap tradisi diskusi FUSA pada awal-awal dulu hidup kembali. Tentu saja, kami selaku dekanat akan memfasilitasi dan memberi dukungan kepada teman-teman dosen untuk berdiskusi. Dan kedepan kita berharap konsep atau model baru dalam pemikiran ilmu sosial keagamaan lahir dari FUSA UIN Mataram, tutupnya.