IKHTISAR PERJALANAN DINAS MENGHADIRI PENGUKUHAN DOKTOR IHSAN HAMID PADA SEKOLAH PASCASARJANA UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Wakil Dekan 2 (Dr. H. Maimun, M.Pd) Mewakili Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram melakukan perjalanan dinas ke UIN Syarif  Hidayatullah pada hari Kamis 14 Juli 2020 sampai hari Sabtu 16 Juli 2022 menghadiri Promosi Doktor Bapak Dr. Ihsan Hamid, M.A.Pol di Sekolah Pscasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Betolak dari Mataram pada hari Kamis pukul 08.45 Wita sampai di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pukul 14.00 Wib langsung masuk penginapan di Syahida Inn di komplek kampus Pascasarjana, beristirahat satu malam, karena acara Peromosi pada hari Jum’at 15 Juli 2022 pukul 08.00 Wib.

Pada hari kedua perjalanan dinas, tepatnya Jum’at 15 Juli 2022 atas nama Civitas Akademika Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram saya hadir di sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah (UIN Syahida) pukul 07.15 Wib, langsung bertemu dengan Promovendus di depan Aula Prof. Suwito UIN Syahida.  Promovendus nampak senang melihat kehadiran perwakilan dari FUSA, karena beliau tidak membawa keluarga disebabkan putra putri beliau masih berusia Balita.

Promovendus berterima kasih atas kehadiran perwakilan FUSA yang datang jauh-jauh  dari Mataram mendampingi sekaligus memberikan support. Atas nama Dekan dan civitas akademika kami sampaikan salam kawan-kawan.

Tepat pukul 07.45 satu persatu penguji dan promotor datang ke Aula Prof. Swito, yang pertama datang Prof. Dr. HM. Ridwan Lubis, MA, beliau sempat menyalami dan menyapa kami berdua dengan promovendus, selanjutnya Prof.Sukron Kamil, MA dan menyusul kemudian Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA.

Tepat pukul 08.00 Wib acara pengukuhan dimulai, satu persatu para penguji yang berjumlah 6 orang memasuki ruangan ujian (Ruang Aula Prof. Swito), dan promovendus diminta menuju mimbar yang sudah disediakan panitia.

Sidang dipimpin oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Phil. Asep Saepuddin Jahar, MA, pertama-tama provendus dipersilahkan mepresentasikan Disertasi yang berjudul “Korupsi di Parlemen; Studi terhadap perilaku politik sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat  Republik Indonesia Pasca Reformasi”.

Presentasi diawali dengan memberi penghormatan kepada pimpinan sidang dan para penguji, dilanjutkan dengan memberi hormat dan ucapan terima kasih kepada promotor, penghormatan dan ucapan terima kasih kepada Dr. Maimun, M.Pd perwakilan dari Pimpinan FUSA UIN Mataram, dilanjutkan dengan  pemaparan temuan-temuan penelitian yang cukup menarik dan menantang.

Provendus memaparkan bahwa penelitiannya secara umum  bertujuan untuk menjelaskan dinamika korupsi di Parlemen Pasca Reformasi dengan mengambil studi kasus terhadap perilaku korupsi sejumlah Anggota DPR RI Periode 2014-2019 diberbagai alat kelengkapan dewan.

Selesai mempresentasikan temuan-temuan, sesi pertanyaan penguji diawali oleh Guru Besar senior yakni Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA. Beliau mengawali pembicaraan dengan ucapan selamat kepada promovendus dan memberi penghormatan kepada perwakilan UIN Mataram yang berkesempatan hadir pada sidang Promosi Doktor Sekolah Pascasarjana UIN Syahida Jakarta.

Salah satu pertanyaan beliau adalah, apa yang melatari terhadinya korupsi, apakah karena mereka miskin atau karena yang lain? Dan berapa persentase koruptor masa orde baru, reformasi, dan saat ini ?

Promovendus memberi jawaban sesuai data wawancara dan observasi di lapangan, di mana latar belakang adanya korupsi, bahwa korupsi di parlemen tersebut terjadi karena berbagai faktor, baik faktor internal seperti: motivasi ekonomi, moralitas, pengawasan dan manajemen pengendalian yang lemah dan minus transparansi, maupun faktor eksternal seperti: faktor keluarga, lingkungan kerja, kesempatan, dan minimnya kontrol oleh partai politik. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa korupsi yang cenderung banal tersebut, juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh sistem Pemilu proporsional terbuka, konsolidasi demokrasi dan kelembagaan di lembaga DPR RI yang terus berjalan, akibatnya semakin tersebarnya posisi setrategis pengambil keputusan. Selain itu disebabkan juga oleh kuatnya budaya kerja dengan model patronase (patron-cilent/atasan bawahan).

Kemudian promovendus juga menambahkan jawaban dari data korupsi, pada periode Masa Jabatan 2004-2009 tercatat sebanyak 12 orang Anggota DPR RI terlibat korupsi yang diadili dan diputus inkracht bersalah, begitu juga periode setelahnya, dalam Masa Jabatan 2009-2014 sebanyak 8 orang diadili tersandung kasus korupsi yang juga diputus bersalah. Seolah tidak ada ujungnya,  kasus korupsi di Parlemen terus terjadi dan kian masif, tercatat sebanyak 22 orang Anggota DPR RI pada Masa Jabatan 2014-2019.

Kemudian penanya kedua yang diundang oleh pimpinan sidang adalah Prof. Dr. HM. Ridwan Lubis, MA, beliau memulai pembicaraan dengan ucapan selamat, kemudian mengajukan satu statemen separuh bertanya, apakah anda tidak takut dengan penelitian anda tentang korupsi di Parlemen?

Provendus dengan percaya diri mengatakan tidak! Karena kajian saya adalah ilmiah dan para koruptor yang menjadi informan dan subyek penelitian adalah orang-orang yang sudah masuk ke dalam putusan inkracht di pengadilan.

Kemudian saran beliau hendaknya diberikan nuansa sentuhan keislaman dari kajian provendus terutama terkait dengan tindakan korupsi dari sisi moralitas keagamaan, karena nilai kajian di UIN itu bukan semata-mata politik, akan tetapi pendidikan moral para politikus.

Selanjutnya pimpinan sidang mengundang Prof.Sukron Kamil, MA untuk memberikan pertanyaan dan masukan ketiga, beliau memberi komentar berdasartkan latar keilmuan sebagai Guru Besar Sejarah. Pertama-tama beliau memberi apresiasi atas keberanian promovendus mengangkat fokus penelitian yang cukup menantang. Kemudian beliau memberi saran agar disertasi yang tebalnya 500-an halaman ini dibagi menjadi dua buku yang ber-ISSBN.

Satu buku terkait dengan korupsi yang terjadi di Parlemen sebelum Reformasi, karena data-data yang ada didalam disertasi ini cukup kaya, kemudian buku kedua terkait dengan Korupsi di Parlemen pada masa dan Pasca Reformasi, dan data tentang kondisi ini juga cukup kaya didalam disertasi anda.

Beliau juga mengingatkan promovendus untuk memperhatikan saran dari Prof. Dr. HM. Ridwan Lubis, MA terkait dengan kajian korupsi dari sisi ke-Islaman terutama tentang etik moral para politikus.

Berikutnya pimpinan sidang mengundang promotor satu lewat zoom meeting, karena beliau sedang berada di Jawa Barat dalam agenda akademik, dan promotor dua yang hadir secara offline, beliau berdua diberikan waktu  untuk memberi saran dan masukan sebagai pelengkap, dan tidak diberikan ruang bertanya oleh pimpinan sidang.

Yang terakhir dari sesi ujian ini adalah pimpinan sidang memberikan komentar dan masukan-masukan yang sangat membangun, karena beliau di samping sebagai pimpinan sidang juga sebagai penguji.

Setelah sesi tanya jawab dan masukan selesai dari ketujuh penguji yang hadir, baik yang offline maupun online, sdiang diskor untuk memberikan penilaian. Sekitar 15 menit di ruang tertutup, para penguji memasuki ruang sidang kembali.

Pimpinan sidang mengumukan bahwa promovendus lulus dengan total nilai 93 dan lulus dengan prodikat sangat memuaskan, promovendus menjadi doktor yang ke 1370.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.Required fields are marked *