Kau Mentariku

Bayangan sesosok perempuan di siang hari dengan jilbabnya yang terulur membuatku berani untuk melawan kerasnya kehidupan. Dengan sikapnya yang anggun dan kata-katanya yang penuh makna, dia mengajakku mengenal apa itu islam yang sebenarnya, merubahku mejadi wanita tangguh yang sesungguhnya.
“ Dek, kamu nggak usah repot-repot merubah dirimu menjadi seperti yang orang-orang inginkan. Tapi jadilah orang yang bermanfaat dimanapun kamu berada. Karena dengan itu, pasti siapa pun akan menyukaimu.” Begitulah nasihatnya kepadaku.
“ iya mi…”
Aku biasa memanggilnya umi, meskipun umurnya sudah kepala tiga tapi jiwanya masih muda, semangatnya masih membara. Bahkan aku pun kalah tak bisa menandingi semangatnya. Dia lah yang selalu menjadi inspirasi dalam hidupku. Bagaikan mentari dalam kehidupanku, yang selalu menggantikan kegelapan dengan cahayanya yang terang.
Hari ini, air mataku tak bisa dibendung lagi. Inilah hari terakhir aku tinggal di Rumah Asuh Al-Inayah. Aku akan melanjutkan kuliah di negeri orang, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan orang-orang yang aku sayangi. Memang setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.
“Dek, disana jaga diri jaga hati ya… jangan neko-neko. Maaf umi ndak bisa bimbing kamu secara langsung lagi ..” itulah kata-kata perpisahan dari umi yang mampu membuatku semakin menangis sesenggukan dan terus memeluknya. Rasanya aku tak ingin melepaskannya, ingin selalu dalam dekapannya.
“fuji nggak mau ngadepin masalah di negeri orang sendirian, fuji masih butuh umi. Fuji masih pengin tinggal disini.”
“kita masih bisa saling mendo’akan, lewat rabithoh InsyaAllah Allah akan selalu menyatukan hati kita.”
Akhirnya hari itu aku berangkat ke negeri orang. Aku bertemu dengan orang orang baru yang akan berada di kehidupanku. Dengan teman teman yang akan berjuang bersama untuk menggapai mimpi. Di negeri orang inilah aku baru merasa apa yang telah umi berikan kepadaku selama di Rumah Asuh baru terpakai. Ya, karena selama di kampung halaman sendiri, aku terbiasa menghadapi ujian ujian kehidupan bersama orang-orang yang mendukungku. Sedangkan sekarang aku harus bisa menghadapi ujian itu seorang diri. Sebagai seorang remaja yang masih labil dengan pendirian dan bekal yang belum cukup, kadang aku juga goyah dan putus asa.
Namun dalam setiap langkahku aku selalu belajar dari pengalaman pengalaman umi. Hijrah itu emang susah tapi ada yang lebih susah yaitu istikomah. Apalagi kalau kita udah tau itu salah, maka kita harus menghindari.
“Disini saya nggak akan ngajarin kalian buat jadi orang-orang yang pinter, tapi saya ingin menjadikan kalian orang-orang yang berakhlak baik.” Dengan penuh penghayatan umi mengatakannya dulu saat aku pertama kali masuk ke Rumah Asuh.
Di Rumah Asuh itulah aku mulai melakukan perubahan dari yang nggak pernah pake kerudung menjadi berkerudung, dari yang masih suka main sama cowo menjadi nggak pernah bahkan mencoba untuk nggak salaman sama non mahram dan nggak chat-an sama cowo. Itu berat, tapi aku juga nggak bakal kuat menanggung akibatnya di akhirat. Jadi, ya mau nggak mau harus taat.
Aku masih ingat saat dulu ada reuni sama temen-temen SMP, ada seorang cowo yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku, tapi aku membalasnya dengan mendekapkan tanganku di dada.
“ kenapa fuj? “ katanya penasaran, karena dulu pas SMP aku masih suka salaman sama cowo.
“maaf aku masih punya wudhu” aku jawab dengan alasan sekenanya.
Umi pernah bilang “ sesuatu yang berat jika dilakukan dengan istikomah maka akan terasa ringan”
Dan itu emang terbukti, awalnya berat banget buat nggak salaman sama temen-temen cowo , ya malu lah, takut ditanya ini itu. Tapi sekali dilakukan dan istikomah itu terasa ringan. Bahkan ada temen yang udah lama hijrah dibanding aku tapi belum berani mencobanya.
“Fuj, ntar kalau salaman sama kepala sekolah kamu duluan ya. Biar aku ngikutin kamu, kalau kamu nggak salaman sama kepala sekolah aku juga berani ikutan nggak salaman deh.” Katanya, saat kita bersalam-salaman dihari raya.
“kalau kita udah terbiasa mah nggak bakal takut.” Kataku dengan santai
Sekarang aku hidup di lingkungan penjara suci di negeri orang. Namun karena ku bukanlah santri tapi mahasantri jadi nggak ada peraturan peraturan yang ketat dan dibebaskan membawa alat elektronik. Disini aku harus bisa benar menjaga diri dan menjaga hati apalagi aku terlalu suka mengikuti kegiatan di organisasi dan nggak ada mentariku disini.
“boleh jadi aktivis, bagus buat mengisi waktu biar masa mudamu makin bermanfaat. Tapi harus tau batasannya dengan ikhwan” begitu nasehatnya di sambungan telepon saat aku menghubunginya dan becerita tentang kegiatan kegiatan ku disini.
“ya mi, gimana keadaan Rumah Asuh disitu?”
“Alhamdulillah, kegiatannya makin banyak. Adik adikmu disini makin rajin ngafal qur’annya. Sekarang juga ada latihan khusus berbahasa”
“wah makin sibuk aja. Mi, fuji pengin pulang banyak masalah yang fuji ngrasa nggak mampu buat ngadepinnya.”
“dek, masalah itu baru ibarat kerikil kerikil kecil yang nggak akan bisa menghalangi langkahmu apabila kamu mau menyingkirkannya, itu bukan batu besar yang susah buat diangkat dan kamu nggak bisa menyingkirkannya. Masalah kamu belum seberapa jika dibanding masalah umi. Justru Allah itu memberikan kamu masalah karena Allah itu tau kamu mampu. Kalau kamu ngrasa masalah itu berat terlalu besar, inget de, kamu punya Allah yang Maha Besar.”
Inilah yang selalu aku rindukan, kata-kata motivasi nya selalu bisa membuatku bangkit lagi. Aku sangat terinspirsi dengan pengalaman pengalaman umi.
“Jodoh itu cerminan diri kita. Kalian nggak usah mikirin nanti jodoh kalian seperti apa. Yang terpenting perbaikilah diri dari sekarang, sibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat.” Ungkapnya ketika anak anak Asuhnya berkumpul dalam ta’lim di malam hari. Kita emang rutin mengadakan ta’lim setiap malah dengan umi sebagai pemateri dan motivator untuk kita semua.
“mi, ceritain dong gimana umi ketemu sama abi?” pinta anaknya yang sulung
Malam semakin larut, tapi mata ini seakan nggak mau terlelap karena ingin mendengar cerita umi.
“umi nggak pernah ketemu sama abi kecuali setelah akad. Bahkan saat umi ta’arufan sama abi dan dikasih biodatanya , umi nggak mau melihat fotonya. Karena umi takut akan mencintainya karena fisik bukan karena Allah. “
“umi dirias nggak waktu nikah?”
“saya nggak mau dirias, bahkan umi mau dipakaiin bedak aja nggak mau. Sebenarnya mbah putri pengin umi sekedar pakai bedak aja, tapi pas mau dipakaiin umi nangis jadi nggak dipakaiin deh.”
“emang kenapa mi?”
“karna umi pengin kecantikan umi hanya untuk suami dan nggak mau dipertontonkan di depan umum.”
Aku makin kagum dengan kesederhanaan nya, dan ketaatan nya pada agama. Dia orang yang selalu memberikan manfaat bag rang lain. Padahal dia bukan orang yag kaya, tapi dia selalu mau berbagi saat dia punya. Dia juga bukan orang yang cantik, tapi dia pandai menjaga diri.
“lemari baju umi hanya satu, karena setiap umi dapet 1 baju baru maka umi harus mengeluarkan 1 baju yang lama untuk disumbangkan “tambahnya memperjelas akan kesederhanaannya.
“kalau kita masih suka sama baju yang lamanya gimana dong mi?”
“dek, setiap rizki yang dikasih sama Allah akan lebih bermanfaat saat kita mau berbagi. Dan setiap yang kita berikan pada orang lain, semuanya akan Allah kembalikan kepada kita dengan penghitungan yang lebih banyak dari yang kita ketahui.”
Kata katanya selalu dapat menghidupakan jiwa ini.
“umi juga awalnya nggak punya modal untuk mendirikan Rumah Asuh Al-Inayah ini, tapi punya tekad yang kuat dan umi percaya Allah akan selalu menolong hambanya dalam setiap urusan yang bertujuan untuk menegakkan agamanya.”
“ terus umi dapet uang dari mana?”
“Rezeki itu datang dari jalan yang nggak pernah disangka-sangka de. Suatu saat nanti kalian juga akan percaya dengan kata-kata ini , setelah kalian membuktikannya sendiri.”
Begitulah kata umi dengan penuh keyakinan.
Aku masih ingin menanyakan bnyak hal pada umi. Karena setiap pengalaman yang dia ceritakan menjadi inspirasi tersendiri bagiku.
“ umi emang dari dulu udah berkerudung ya?” Tanya anak-anak asuhnya penasaran
“ emang kenapa de?”
“soalnya umi kayak udah kuat banget imannya.”
“dek, keimanan seseorang itu akan terlihat saat ujian datang menghebat. Nggak kok , saya baru mulai berkerudung saat kuliah. Padahal ikut halaqah nya udah dari SMA, tapi jiwa ini baru merasa tersentuh saat saya kuliah.
Apalagi orangtua umi nggak setuju waktu ngliat umi pakai keudung gede, kata mereka ‘ngapain si pakai kerudung gede-gede emang nggak gerah? Nanti nggak ada yang suka sama kamu loh. Natar kamu nggak nikah-nikah’
Umi cukup dengerin aja, nggak usah dilawan.”
“ tapi kok keliatannya sekarang mbah udah nggak mempermasalahkannya lagi mi. Gimana ? kok bisa mi?”
“orangtua kita akan menerima perubahan kita jika kita terus berbuat baik kepadanya dan senantiasa meningkatkan birul walidain kita kepada mereka”
“ umi emang nggak suka dibully sama temen-temen kalau pakai kerudung gede?”
“ paling suka disebut ustadzah, ibu haji. Ya kita aamiin kan aja de. Semoga menjadi do’a buat diri kita. Justru orang yang menjaga diri dan istikomah untuk menutup auratnya akan lebih dijaa juga oleh orang lain.”
“hmmmm, iya juga si mi. fuji juga kalau lewat di depan laki-laki bukan digoda dengan omongan-omongan yang jorok, tapi dengan salam ‘assalamu’alaikum neng’ “ hahaha ….. tawaku memecahkan kehinangan malam.
“ umi, boleh nggak si kita boncengan sama laki-laki yang bukan mahram?”
“ya nggak boleh lah de, salaman aja nggak boleh apalagi boncengan.”
“tapi kan mi, salaman mah kita sentuhan kulit kalau boncengan mah kita nggak sentuhan kulit.”
“dek,meskipun nggak sentuhan kulit, tapi itu dapat menimbulkan fitnah”
“umi pernah nggak dibonceng sama laki-laki selain suami umi?”
“Alhamdulillah nggak pernah de, meskipun saya baru hijrah saat kuliah tapi sebelumnya umi selalu kemana mana sendiri , karena nggak nyaman aja kalau diantar sama laki-laki. Itulah kenapa kita sebagai akhwat penting untuk bisa mengendarai sendiri.
Dulu saat umi kuliah sering pulang malam karena penelitian di kampus bareng sama kakak tingkat cowo. Kalau mau pulang ke kos-an dia selalu nanyain ‘mau dianterin nggak?’ umi selalu menolak karena umi ingin menjaga diri ini. Biasanya malam hari angkutan umum yang menuju arah kos-an udah jarang paling adanya juga ojek. Tapi umi juga nggak mau naik ojek, karena ojeknya juga laki-laki. Pernah waktu itu dia ngikutin dibelakang pake motor dan umi jalan kaki didepannya. Mungkin karena dia khawatir sama perempuan. Tapi jarak kita jauh dan nggak ada obrolan apa pun sepanjang jalan.”
“emang umi belum bisa naik motor waktu itu?”
“umi belum bisa naik motor, dan belum punya motor juga. Umi itu bisa naik motor saat kuliah semester tiga karena udah ngrasa butuh banget jadi umi paksain latihan tiap hari sampai bisa.”
“umi nggak takut kalau pulang malem sendirian?”
“nggak lah, takut sama apa? Kan ada Allah. Bahkan setelah nikah pun umi sering ngisi halaqah malam hari dan pulang sendiri karena suami juga ada amanah lain. Waktu itu umi lagi hamil yang pertama, pulang dari ngisi halaqah tiba tiba ban motornya bocor ditengah jalan, udah mah jalanan sepi nggak ada bengkel. Jadi umi dorong aja sampai ruamah. Alhamdulillah, umi masih sehat sampai sekarang.”
MasyaAllah, bener bener akhwat tangguh yang mampu berjalan sendiri demi menegakkan agama Allah.
“ umi pernah pacaran nggak mi?”
“Alhamdulillh nggak pernah, dulu pernah ada yang ngasih surat cinta sama umi. Tapi sama sekali nggak umi baca, langsung umi sobek sobek dan dibakar deh.”
“kenapa nggak dibaca mi, emang umi nggak penasaran?”
“umi sengaja nggak baca, karena umi takut setelah membaca surat itu umi akan tergoda. Hati ini sesungguhnya sangat lemah, dan hanya Allah lah yang mampu untuk membolak balikan hati manusia. Apalagi di masa masa remaja seperti kalian ini, yang masih labil, hati itu akan mudah tergoda. Jadi pintar-pintarlah untuk membentengi diri”
“kalau suka sama cowo pernah nggak mi?”
“itu hal yang wajar de, umi juga dulu pernah kagum sama kaka kelas. Nah waktu umi ikut lomba, umi disatukan dalam satu kelompok sama kaka kelas itu. Pasti kalau orang lain mah akan ngrasa senang, tapi lain dengan umi malah ngrasa nggak nyaman karena takut akan terjerumus, jadi disituasi itu umi benar benar memperkuat benteng di dalam diri dengan tidak berkomunikasi secara langsung dengannya. Kareana umi percaya jodoh itu nggak akan tertukar.”
“boleh ngak mi kalau kita chatting-an sama ikhwan buat kepentingan-kepentingan dalam suatu organisasi?”
“boleh, asalkan tau aja batasan batasannya. Jangan ngomongin hal-hal yang nggak penting, jangan chatting malam hari. Dan jangan sering sering , kalau bisa mah di grup aja. Takutnya akan timbul rasa yang nggak biasa.”
“ umi, hakikatnya kita dalam suatu organisasai itu apa si?”
“dek,dalam suatu organisasi itu, kita bukan untuk mencari popularitas tapi semata mata untuk ikut dalam amar ma’ruf nahi munkar. Karena Allah itu nggak hanya melihat hasilnya saja, tapi Allah akan senantiasa melihat proses yang kita lalui. Dan setiap proses itu nggk akan mengkhianati hasil.” Jawabnya dengan mantap, karena umi juga sebagai ketua umum PD Salimah Purbalingga, coordinator SPJ Purbalingga, dan wanita inspirasi masa kini / kartini muda masa kini.
Potongan potongan kisah dimalam hari itu dalam ta’lim yang disampaikan umi selalu aku ingat selalu untuk dijadikan pembelajaran dalam perjalanan hijrahku. Dialah Sang Mentari yang selalu menjadi Inspirasi dalam hidupku. Semoga aku juga bisa menjadi mentari yang berguna dikehidupan ini, karena mentari tak akan kehilangan indahnya meskipun tertutup awan. (Indra Jayadi – Ketua HMJ IQT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *