Cerita Hidupku dan Tempat Tinggalku

Namaku indra disaat aku masih berusia 6 tahun aku mulai memasuki sekolah dasar (SD), dimasa itu aku menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan,masa dimana aku aktif bermain, dan masa dimana aku masih polos “malaikat kecil”. pada usia 6 tahun saya masih belum mengenal dosa atau apa itu beban hidup,seiringnya waktu saya terus bermain bersama teman-teman seusiaku,keesok harinya aku pergi kesekolah untuk menuntut ilmu,sampai disekolah saya pun masih bermain,didalam kelas saya bermain sampai-sampai kena ocehan guru saya .

Lonceng tanda pulang sekolah pun berbunyi dan seperti biasa aku selalu bermain dan tak terasa sore datang sangking asyiknya bermain.seiringnya waktu aku menjalani hidup tanpa dosa. Tak terasa umurku sudah 10 tahun dan mengakhiri masa SD ku,aku pun mulai memasuki hidup baru dengan teman baru.saya pun melanjutkan ke sekolah menengah pertama (SMP) pada usia 10 tahun lebih 3 bulan,saya bertemu teman baru yang mengasikkan dan dengan penuh rasa cinta.Saya juga tinggal di sebuah dusun yang bernama dusun MONTONG BALAS,disini tempat saya dilahirkan dan merasakan pahit manis kehidupan bersama orang tua ku. Dusun MONTONG BALAS tepat di LOMBOK Tengah.

Pulau Lombok sejak zaman kerajaan Majapahit sudah terkenal. Hal ini terbukti dengan disebutnya dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca. Negarakertagama ditemukan juga di Lombok.Legenda masyarakat Sasak menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, kerajaan Mataram Lama di Jawa Tengah dipimpin oleh seorang raja wanita bernama yang kawin dengan . Konon sang Permaisuri adalah seorang ahli pemerintah, sedangkan sang suami ahli peperangan. Kekuasaannya ke barat sampai ke Pulau Sumatra, ke timur sampai ke Pulau Flores.

Ketika itulah banyak rakyat Mataram pergi berlayar ke arah timur melalui Laut Jawa menggunakan perahu bercadik.Tujuan mereka berlayar tidak diketahui secara pasti. Apakah untuk memperluas kekuasaan atau menghindari kerja berat, karena pada saat itu Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Kalasan sedang dibangun oleh sang raja.Demikianlah mereka berlayar lurus ke timur dan mendarat di sebuah pelabuhan.

Pelabuhan itu diberi nama Lomboq (lurus), untuk mengenang perjalanan panjang.Mereka lurus ke timur tersebut. Selanjutnya, Lomboq kini tidak hanya menjadi nama pelabuhan tempat perahu itu mendarat, tetapi juga menjadi nama pulau Lomboq yang kemudian berubah menjadi . Mereka berlayar menggunakan perahu bercadik yang disebut “sak-sak”, dan jadilah mereka dinamakan orang Sak-Sak Yang berarti orang yang datang menggunakan perahu. Kemudian, mereka membaur dengan penduduk asli. Pada waktu itu, di Pulau Lombok telah ada kerajaan yang disebut kerajaan Kedarao (mungkin sekarang Sembalun dan Sambelia)Mereka kemudian mendirikan kerajaan Lombok yang berpusat. Kerajaan Lombok menjadi besar, berkembang dalam lima abad, hingga dikenal di seluruh Nusantara, sebagai pelabuhan yang dikunjungi oleh para pedagang dari Tuban, Gresik, Makasar, Banjarmasin, Ternate, Tidore, bahkan Malaka.

Jika datang ke Lombok, orang Malaka membeli beras, tarum, dan kayu sepang.Kerajaan Lombok kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit. Raja dan permaisurinya lari ke gunung dan mendirikan kerajaan baru yang diberi nama Watuparang yang kemudian terkenal dengan nama . Kapan nama  berubah menjadi, dan nama  berubah menjadi tidak diketahui secara pasti. Yang jelas sekarang pulaunya terkenal dengan nama Pulau Lombok dan suku bangsanya terkenal dengan nama suku Sasak.

Nama Selaparang Sudah diabadikan menjadi nama sebuah jalan protokol dan nama lapangan terbang di Mataram, ibu kota provinsi Nusa Tenggara Barat.Dilombok juga punya tradisi,nama tradisi tersebut BAU NYALE.
Ada tradisi yang khas dan dianggap sakral di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok pada daerah pesisir selatan setahun sekali mengadakan upacara adat Bau Nyale (Menangkap Nyale-cacing laut). Dan, upacara menangkap nyale yang hanya berlangsung setahun sekali (sekitar bulan Februari dan Maret) selalu dikaitkan dengan sebuah cerita legenda yang sangat merakyat. Nyale adalah jelmaan Putri Mandalika. Demikian kepercayaan masyarakat Suku Sasak. Lalu bagaimanakah cerita tentang Putri Mandalika yang menjelma menjadi Nyale, cacing laut ini. Yuk kita simak.

Dahulukala, di Pulau Lombok di daerah pesisir selatan, terdapat sebuah kerajaan yang sangat makmur. Kerajaan yang bernama Tunjung Bitu ini diperintah oleh seorang raja yang sangat bijaksana. Paduka Raja bergelar Tonjang Beru. Raja Tonjang Beru berpermaisurikan Dewi Seranting. Begitu bijaksananya Sang Raja Tonjang Beru memimpin negeri, semua rakyat merasa tentram, damai sejahtera. Hasil bumi melimpah ruah. Lumbung-lumbung penuh berisi cadangan makanan. Tak pernah terdengar adanya keluhan dari rakyat Tunjung Bitu.Kebahagiaan rakyat Kerajaan Tunjung Bitu beserta Raja Tonjang Beru dan Permaisuri Dewi Seranting bertambah ketika mereka dikaruniai seorang putri yang cantik jelita. Tampak jelas parasnya yang elok diwariskan dari ibunya Dewi Seranting, Sementara tingkah lakunya yang bijak diturunkan dari kearifan Raja Tonjang Beru. Putri ini diberi nama Putri Mandalika. Sebuah nama yang indah, pantas untuk diberikan kepadanya.Singkat cerita, putri cantik tersebut telah tumbuh menjadi gadis remaja. Kecerdasan, kepandai an, keelokan paras yang yang utama budi pekertinya telah menjadi pembicaraan rakyat kerajaan Tunjung Bitu. Demikian termahsyurnya nama Putri Mandalika dengan segala pesonanya menyebar hingga ke seluruh penjuru Lombok dan daerah sekitarnya.

sedang mekar, Putri Mandalika menarik kedatangan kumbang-kumbang. Puluhan putra mahkota dan pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar Tunjung Bitu mulai megajukan lamaran. Semua ingin menyunting bunga yang semerbak itu. Sebagai seorang putri raja, urusan perjodohan bukanlah hal sederhana. Ternyata pesona Putri Mandalika memunculkan masalah serius.

Raja Tonjang Beru dan Permaisuri Dewi Seranting tidak bisa memutuskan masa depan anaknya. Sang Raja tak bisa menentukan siapakah yang akan diterima lamarannya. Padahal, utusan-utusan dari para Putra Mahkota dan Pangeran-Pangeran itu terus mendesak jawaban. Mereka bahkan saling bermusuhan dan siap menggelar perang besar. Pemenang tentunya yang akan berhak atas cinta Putri Mandalika. Sang Raja Tonjang Beru dan Permaisuri Dewi Seranting bingung. Akhirnya, mereka meminta Putri Mandalika sendirilah yang memutuskan. Putri Mandalika dengan segala kebijaksanaannya meminta waktu untuk bersemedi. Ia meminta para pangeran dan para putra mahkota untuk bersabar. Putri tidak ingin perang besar berkecamuk di antara semua kerajaan.

Putri Mandalika paham, jika perang besar terjadi, maka yang menjadi korban sebenarnya adalah rakyat.sang putrid sebenarnya tidak pernah melihat perang besar, tapi ia cukup cerdas untuk menghitung akibat yang bisa ditimbulkan sebuah perang. Apalagi perang antar banyak kerajaan.Setelah waktu bersemedi yang diminta Putri Mandalika habis. Maka para putra mahkota dan para pangeranpun mendesak. Mereka ingin segera tahu siapakah di antara mereka yang dipilih oleh Sang Putri. Melihat gelagat yang ada, Putri Mandalika mengerti bila ia memilih salah satu dari mereka sebagai calon suaminya, maka yang lain pasti akan kecewa. Situasi semakin memanas dan tak akan bisa teratasi.Tetapi, dengan tenang Putri Mandalika mengatakan bahwa ia mengundang seluruh rombongan pelamar dan rakyatnya untuk datang ke Pantai Seger Kuta. Ia berjanji akan menunjukkan apa keputusan yang telah dipilihnya dan tak akan mengecewakan semua pihak. Putri Mandalika tak menginginkan terjadi peperangan yang akan memakan banyak korban tidak berdosa. (Indra Jayadi – Ketua HMJ IQT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *